Pasca Penyerangan Ahmadiyah, Gubernur Dialog dengan Warga Greneng
Cari Berita

Advertisement

Masukkan iklan banner 970 X 90px di sini

Arsip Blog

Pasca Penyerangan Ahmadiyah, Gubernur Dialog dengan Warga Greneng

Rabu, 23 Mei 2018

Gubernur NTB saat berdialog
dengan Warga Desa Greneng Lotim

Lombok Timur, Lensa Post NTB – Pasca peninjauan langsung terhadap kelompok Ahmadiyah di Lombok Timur beberapa hari lalu, Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi kembali berdialog dengan warga Desa Greneng, Kecamatan Sakra Timur, dialog ini sebagai upaya mediasi antara warga dengan kelompok Ahmadiyah. Pada kesempatan itu juga Gubernur berkesempatan menemui warga Ahmadiyah yang masih ditampung di Mapolres Lombok Timur. 
Kehadiran orang nomor satu di NTB tersebut untuk menindaklanjuti penyelesaian kasus pengrusakan sejumlah rumah dan pengusiran warga Ahmadiyah oleh sekelompok warga, Sabtu (19/05) lalu. Saat berdialog, Gubernur mengajak masyarakat Greneng untuk menjaga hal-hal baik yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Yaitu semangat persaudaraan, kekeluargaan dan kekerabatan.“Kalau kita tidak bisa menjaga persaudaraan dan kekeluargaan, maka yang muncul adalah kebencian,” ungkap Gubernur yang saat itu ditemani PJs. Bupati Lombok Timur, Kepala Desa Greneng dan sejumlah pejabat.
Gubernur yang lebih dikenal Tuan Guru Bajang (TGB) itu mengatakan kalau ada yang kurang pas warga diminta untuk menempuh cara-cara baik untuk menyelesaikannya. Seperti melakukan musyawarah atau saling menasehati. Sebab, apa yang terjadi dalam diri kita tambah TGB merupakan cerminan bagi orang lain.“Kalau ada yang salah, nasehati dia karena dia adalah cerminan kita.Semua kita adalah cerminan satu sama lain,” ungkap TGB.
Meskipun kejadian ini sudah terjadi, Gubernur berharap kepada masyarakat agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Sebab, kalau terjadi akan berdampak pada pembangunan serta nama baik daerah.“Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi yang kita harapkan,” ungkap TGB seraya menjelaskan Pemerintah akan mencarikan solusi terbaik untuk kasus tersebut. Yaitu dengan mengundang sejumlah tokoh masyarakat untuk duduk bersama, bermusyawarah menyelesaikan permasalahan itu. (Tim Lensa Post NTB)