Ramadhanomics : Takjil, PKL dan Ekonomi Kota (oleh : M.Ramadhani)
Cari Berita

Advertisement

Masukkan iklan banner 970 X 90px di sini

Ramadhanomics : Takjil, PKL dan Ekonomi Kota (oleh : M.Ramadhani)

Rabu, 23 Mei 2018


Judul diatas sama sekali bukan teori atau mazhab ekonomi baru yang setara dgn wijojonomics atau habibienomics yang pernah menjadi perdebatan di masa orde baru...ini sebuah tulisan ringan mengisi waktu penunggu beduk magrib..soal fenomena meningkatnya geliat ekonomi kecil, sektor informal dan bisnis lain di moment Bulan Ramadhan. Awal cerita, tiba tiba sesaat selepas Sholat Taraweh di Masjid Fatahillah, sekelompok anak muda di kompleks Perumahan Fatahillah  Resort Pagutan, mendadak menghampiri penulis. Dengan penuh berharap mereka ternyata hanya hendak permisi jualan makanan dan minuman buka puasa atau yang dikenal dengan istilah takjil di depan rumah penulis. Tentu saja niat dan kreatifitas anak muda ini mendapat dukungan dari penulis. Membaca isi berita  Koran lokal (sabtu, 19/05/2018) membuat judul besar PKL musiman berebut cari rejeki. Bahkan dalam berita itu juga, Ketua APKLI Kota Mataram, berani menyebut sekitar 4000 orang mendadak jadi penggiat PKL.

Semakin berkembangnya tradisi buka puasa gratis di masjid-masjid menghidupkan bisnis makanan. Pemesanan nasi kotak meningkat drastis untuk berbuka dan sahur. Hal ini juga menunjukkan semakin tingginya kemampuan dan preferensi sebagian masyarakat untuk berbagi. Setelah pelaksanaan shalat Tarawih, permintaan makanan dan minuman juga naik.
Tradisi buka puasa bersama yang dilakukan setiap hari sepanjang bulan Ramadhan merupakan contoh penambahan jam bersosialisasi sekaligus peningkatan belanja makanan. Tradisi ini juga meningkatkan permintaan akan jasa transportasi. Mal dan restoran memperpanjang jam operasional malamnya. Fenomena diatas adalah salah satu gambaran sederhana bahwa momentum Bulan Suci Ramadhan memberikan “energi” dan jika dikaji secara ekonomi mempunyai potensi ekonomi yang sangat besar. Inilah yang kemudian disebut  “Ramadhanomics”.
Ramadhan memang bulan penuh berkah. Tidak hanya secara spiritual tetapi berkah secara ekonomi.  Bagi seluruh umat manusia. Bukan hanya semata mata umat muslim. Seorang ekonom dalam blognya menulis artikel Stimulus Bulan Suci Ramadhan dalam pola konsumsi.
Shelina Janmohamed, penulis buku Generation M: Young Muslims Changing the World, menyimpulkan bahwa bulan Ramadhan mengubah keseluruhan gaya hidup yang membawa dampak ekonomi positif. Janmohamed, konsultan pemasaran Ogilvy Noor, dalam risetnya, “The Great British Ramadan”, memperkirakan kenaikan permintaan 200 juta poundsterling setiap Ramadhan yang meliputi pembelian financial planning dan asuransi, makanan, baju, mainan, dan berbagai hadiah.

Dalam data BPS setiap Bulan Ramadhan hingga jelang bahkan pasca Idul Fitri, pasti dikuti oleh kenaikan harga harga barang dan inflasi rata rata mencapai 0,7%. Ini artinya bisa dipastikan siapapun, usaha apapun, yang penting halal tentunya,  di Bulan Ramadhan pasti akan mengeruk keuntungan yang relatif  lebih besar dari bulan bulan selain Bulan Ramadhan. Menjadi “mendadak kaya”. Industri retail mencatat kenaikan omzet 300%. Termasuk juga peranan ekonomi informal, PKL, dengan penjualan takjil, kue lebaran dadakan. Jangan lupa pula, fenomena budaya mudik. Secara hitungan gampang gampangan, jika saja diprediksi jumlah pemudik naik 10-15% tahun ini. Menurut data Kementerian Perhubungan RI secara keseluruhan nasional jumlah pemudik lebaran 2018 diprediksi 19,5 juta orang. Dengan asumsi jika saja satu orang membawa Rp. 2.000.000,- untuk transportasi saja, maka total uang yang beredar Rp. 39 Triliun. Sebuah angka yang luar biasa.
Belum lagi kebutuhan uang tunai selama  Ramadhan dan Idul Fitri tentu meningkat tajam. Bank Indonesia (BI) bakal menyiapkan tambahan uang tunai sebesar Rp 167 triliun guna mengantisipasi melonjaknya permintaan uang tunai jelang ramadan dan perayaan Idul Fitri 1438 H. Jumlah itu naik sekitar 14 persen dari jumlah tambahan uang beredar pada periode yang sama, yakni Rp146 triliun. Hampir terlupakan pula, potensi ekonomi umat yang terhimpun dalam kewajiban Zakat sabagai bagian yang tidak terpisahkan dalam ibadah wajib di bulan Ramadhan. Data Bimas Islam Kementerian Agama RI menyebutkan, berdasarkan penelitian data terdahulu potensi zakat nasional mencapai Rp 217 trilliun, namun yang baru terkumpul hanya 0,2% atau Rp 6 triliiun per tahun. Inilah potensi kekuatan ekonomi bulan Ramadhan. Masya Allah.

Segelas Cendol bagi Ekonomi Kota
Jika saja 1 % dari nilai Rp.167 T itu mampir dan berputar di wilayah kota seperti Kota Mataram, kota kecil dan heterogen ini, atau sekitar 1,67 T berarti lebih besar dari APBD kota Mataram Tahun 2018 yang hanya sebesar 1,4 Triliun. Maka tentu saja aktivitas ekonomi kota setidaknya harus menjadi berkah dan kenikmatan bagi warga kota secara keseluruhan. Makanya jangan anggap remeh kekuatan pedagang informal dan PKL yang mendadak menjamur. Jika 4000 PKL diasumsikan beromzet Rp.100.000 saja perhari  maka Rp.400 juta uang bertebaran di pusat pusat keramaian dan sepanjang jalan kota di setiap sore dan malam hari selama Bulan Ramadhan.  Maka sesungguhnya ide even wisata religi “Festival  Pesona Khasanah Ramadhan” yang dipusatkan salah satu ikon kota ini yaitu Masjid Hisbul Wathan Islamic Center adalah salah satu upaya upaya kreatif dalam menangkap sedikit potensi dan peluang besar tersebut. Stand Kuliner khas, pakaian muslim dan berbagai komoditas lainnnya telah menyatu dalam kekhusukan malam taraweh malam Ramadhan. Dalam skala yang jauh lebih besar, hal ini meniru kekuatan ekonomi Kota Makkah dan Madinah dalam promosi “Umrah Ramadhan” nya. Ratusan ribu dan Jutaan umat muslim berduyun duyun mengunjungi Rumah Allah yang tentu saja dengan berbekal segepok mata uang dari masing masing negeri dari penjuru dunia. Pahala diobral. Uang bertebaran.  

Lebaran rasa Pilkada
Satu hal yang memicu Ramadhan dan Lebaran tahun ini sedikit unik adalah ada aroma politik dalam obrolan selepas taraweh dan menunggu buka. Pilkada serentak semakin memperkaya warna berbeda Ramadhan tahun ini. Transaksi ekonomi dan peredaran uang nampaknya beririsan dengan biaya dan transaksi politik yang dipicu oleh perhelatan agenda politik daerah tak lama setelah lebaran Idul Fitri. Aroma politisasi dalam bingkisan lebaran sepertinya tak terelakan. Silaturahmi keluarga dan reuni angkatan sekolah pasti terselip pesan pesan politik. Semua calon tentu sudah menebar pesona dengan mengatur stamina dan amunisi di momen lebaran ini. Ibarat perhelatan pilkada adalah sebuah lari marathon, maka lebaran adalah sprint 100 meter terakhir untuk mencapai garis finis. Sangat menentukan hasil akhir dari proses perjuangan panjang yang menghabiskan semua energi dan kekuatan yang ada.

Ramadhanomics: Godaan Meraih Lailautul Qodar?
Tak diragukan lagi kekuatan ekonomi di Bulan Ramadhan. Dahsyat dan mencengangkan. Dan akan makin menggila di hari hari menjelang Bulan menjelang Idul Fitri di penghujung Ramadhan. Di sisi lain dahsyatnya kekuatan Ramadhanomics jangan sampai juga melalaikan dengan Bonus 10 hari terakhir Ramadhan dengan Malam Lailatul Qadr-nya. 
Indahnya Ramadhan, subhanallah. Hanya dengan perintah beberapa ayat perintah di kitab suci Alquran,  geliat ekonomi kota, ekonomi lokal bahkan ekonomi dunia bergerak.  Nikmat mana lagi kau dustakan? Selamat menjalankan ibadah puasa dan berbuka dengan lezatnya jajajan PKL, es cendol di teras megahnya menara IC, sambil menanti turunnya malam lailatul qadar. Maha Besar Allah yang maha pengasih dan pemberi rejeki.

(Penulis adalah ASN pada Pemkot Kota Mataram, Pengurus DPW LDII NTB)