“Wisata Ku, Wisata Mu, Dan Wisata Kita”
Cari Berita

Advertisement

Masukkan iklan banner 970 X 90px di sini

“Wisata Ku, Wisata Mu, Dan Wisata Kita”

Bimabangkit.info
Selasa, 16 Juni 2020

Oleh : Pemuda Peduli Pariwisata (PELITA DORO NISA)

Bima, Media Info Bima Online - Doro Nisa (Pulau Kambing) merupakan aset dunia pariwisata yang tidak boleh diabaikan, apalagi untuk di pandang sebelah mata. Doro Nisa tidak hanya menyuguhkan pemandangan yang menenangkan mata dengan segala keindahannya, sunrise, padang savana, laut, dan tamannya. Tetapi disana terpendam arkeologi sejarah yang tidak di ketahui oleh banyak orang, seperti makam keluarga kerajaan dan misteri pulaunya yang membuat kolonial (Belanda & Jepang) kalang kabut untuk memasuki wilayah daerah Bima.

Sejauh ini, beberapa kelompok pemuda yang sadar telah menggerakan kembali kehidupan wisata kerakyataan Doro Nisa, sebut saja kelompok ini adalah Pemuda Peduli Pariwisata (PELITA Doro Nisa) Desa Bajo Soromandi. Dalam waktu satu bulan terakhir Pelita telah menyalakan kembali intesitas pariwisata kerakyaatan Doro Nisa lewat pembersihan dan penataan wilayah ini, mulai dari pembersihan sepanjang bibir pantai, penataan taman rekreasi hingga membuka jalur/rute pendakian menuju padang Savana dan Puncak Doro Nisa.
Apa efek/manfaat dari aktifitas ini dan siapa saja yang diuntungkan dari kegiatan ini? Logika pariwisata tentu harus dibangun dengan argumentasi yang kuat sebagai penopang perekonomian kerakyataan dan menekan angka pengangguran, sampai menghilangkan resiko konflik sosial ditengah masyarakat. Ini merupakan hal pertama sebagai referensi gerakan pariwisata kerakyatan Doro Nisa, sebab hal diatas merupakan urgensi yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat Desa atau akar rumpun. Kita bisa bayangkan, bagaimana efek domino dari ketiadaan tempat rekreasi atau hiburan disekitar kita, ditambah lagi dengan kehidupan yang serba dibawah tekanan sosial maupun pekerjaan rumah/kantor yang menumpuk. Dari hal demikian, tentulah semua orang butuh penyegaran/refreshing minimal melepas penat hingga berteriak sekencang-kencangnya agar beban tidak lagi menjadi pikiran yang memberatkan.
Doro Nisa hadir untuk menjawab itu semua, spot-spot yang dapat memanjankan mata dan bathin semuanya komplit ada disini. Sebagai pemuda yang sadar, tentu gerakan ini adalah optimisme yang membangun wajah tanah kelahiran dengan baik (Desa & Daerah). Apalagi saat siklus perekonomian kerakyaatan berputar dan menghidupkan banyak sektor, misal penjual asongan dan kopi, para penimba Bot yang setiap harinya menunggu penumpang untuk menyebrangi laut, pemuda yang menganggur tidak punya kerjaan, hingga lahan-lahan kosong yang dapat dijadikan tempat parkir adalah keuntungan dari adanya aset wisata yang tidak boleh diabiakan.

Bagaimana seharusnya yang kita lakukan? Pertama, kita tidak boleh apatis atau abai fakta melihat potensi ini sebagai kekuatan ekonomi dan sosial kerakyataan. Kedua, kita harus optimis punya kapasitas untuk mengelola aset wisata ini sebagai sumber kehidupan baru kerakyataan Desa Bajo. Ketiga, semuanya harus bergerak secara bersama untuk mendorong wisata Doro Nisa sebagai icon baru Desa & Daerah, sebab ini adalah “Wisata Aku, Wisata Kamu, Dan Wisata Kita”. (Usman).