"PETI KRAMAT H. ARIFIN"
Cari Berita

Advertisement

Masukkan iklan banner 970 X 90px di sini

"PETI KRAMAT H. ARIFIN"

Bimabangkit.info
Rabu, 08 Juli 2020


Oleh : Muslihun Staf DPD RI.

MEDIA, Info Bima Online - Seorang nenek tua renta  menangis saat ditemui H. Arifin disebuah Desa pedalaman terpencil, sekian banyak anak yatim yang bahagia ketika bertemu dengan H. Arifin. Adakah keuntungan politis bagi H. Arifin dalam peristiwa itu? Jawabannya, sama sekali tidak ada keuntungan politik yang bisa diperoleh.

Saya menduga, H. Arifin hanya meraup kebahagiaan hati. Itu artinya kesehatan mental dan kesehatan akalnya terjaga. Itulah modal politik yang utama. Dari situ H. Arifin menunjukan kelasnya sebagai manusia yang berakal budi.

Seingat saya, Gubernur NTB terpilih star dengan survei 7 %. Nyatanya dia jadi. Terpilih oleh rakyat sebagai Gubernur. Sementara H. Arifin sebelum turun Bima, malah survei lebih dulu mengkonfirmasi bahwa elektabilitasnya lebih dari 7%. Fakta ini anomali, juga ajaib.

Kenapa bisa?
Karena ilmu pengetahuan mengudara bekerja dengan teknologi adalah jawaban elektabilitas H. Arifin lebih dari 7%. Setelah itu, H. Arifin dua hari kemudian turun ke Bima. Apa yang terjadi saat turun di Bandara?

6 (enam) media lokal wawancara di Bandara, ratusan waga menyambut. Sejuta %, baik media maupun manusia yg jemput tidak kenal H. Arifin sblmnya. Faktanya H. Arifin disambut riang gembira.

Berani sekali H. Arifin menyatakan Maju Calon Bupati padahal modal selembar "surat tugas dr salah satu partai"?  Empat belas hari pula masa berlaku surat tugas itu.

Sekarang, faktanya surat tugas tidak dibatasi 14 hari, faktanya H. Arifin fisik dan pikirannya sedang ada di Bima. Berarti ada lingkungan elit strategis yang bekerja menjawab tantangan dan problema yang dihadapi H. Arifin. 

Saya kasih tau ya: selembar surat tugas itu adalah isi peti partai demokrat sekaligus alat uji kesaktian sosok pengantin bernama H. Arifin. Peti itu namanya "peti kramat".

Apa benar peti kramat?
Gue uraikan pelan-pelan:

Hanura itu akad ke Herman Edison setelah ada perintah dari penjaga peti kramat. Seketika Hanura lapor, "siap bang Hanura sudah akad ke Herman Edison dan tidak akan ada perubahan selama ybs maju sampai final". Peti Kramat menjawab "Oke"!

Peti Kramat itu lebih dulu berbicara sebelum Nasdem menentukan arah. Kawan terbaik peti kramat itu adalah PAN. Peti kramat juga tidak punya calon musuh terburuk. Sedamai itulah perjuangan H. Arifin.

Bagaimana mungkin H. Arifin bisa masuk lapangan tanding, wong modal hanya satu lembar surat tugas dari parpol?

Jawabnya mudah:

Musa itu seorang Bayi yang harus dibunuh oleh Fir'aun. Tp isterinya bilang, jangan! Biarkan aku rawat. Fir'aun luluh.

Musa tumbuh, hingga jadi Nabi.
Kata Musa; Hei Firaun? Tunduk pada aku atau membangkang? Firaun membangkang, Musa tenggelamkan. Musa benar, karena membawa "Misi Ilahiah". Kisah Musa, juga kisah "peti kramat juga".
Foto ; H. Arifin, Calon Bupati Bima Bersama Warga Kabupaten Bima.

Sekeramat itukah Peti H. Arifin dengan secuil surat tugas itu? Tentu saja tidak untuk dibandingkan dengan Musa, apalagi di sejajarkan. H. Arifin hanya anak Tadewa, dari WERA pula. Tapi ingat, Rahmat Ilahi itu tidak dibatasi oleh tempat dan waktu.

Sekarang uji publik. Apa itu?

Sanggupkah memindahkan peti kramat itu ke tangan lain? Rasanya terlampau berat peti itu diangkat kendati selembar kertas itu seringan kapas. Ada apa disitu.

Bukan saja peti kramat bernama Demokrat itu berat, tapi juga sukses memindahkan yoker dari  "A ke B". Bagimu aneh. Bagimu kok bisa. Bagi penjaga peti kramat, itu biasa. Dengan ngobrol modal secangkir kopi, yg gelap bisa terang. Yang terang bisa gelap.

Apa kisah akhir petualaangan peti kramat ini? Ya menang. Ya menjadi bagian pemenang. Ya penyelamat. Jadi posisi kunci peti kramat itu, menyelamatkan masa depan bersama, (Usman).