Kepala SD IT Al-Hilmi Dompu Bantah Tudingan Pemecatan Sepihak Nilakanti
Cari Berita

Advertisement

Masukkan iklan banner 970 X 90px di sini

Kepala SD IT Al-Hilmi Dompu Bantah Tudingan Pemecatan Sepihak Nilakanti

Bimabangkit.info
Rabu, 30 September 2020

Kepala SD IT Al-Hilmi Mengaku Tidak Pernah Melakukan Pemecatan Sepihak Atas Bendahara Nilakanti yang Kini Bakal layangkan Gugatan Secara Hukum.


 Dompu, Infobima.com - Kepala SD IT Al-Hilmi Syamsul, S.Pd angkat bicara atas tudingan dirinya yang telah melakukan pemecatan bendahara umum sekolah atas nama Nilakanti, SE secara sepihak.


Dengan didampingi Ketua Yayasan Dr. Khaerul Akbar, M.Si, Syamsul, S.Pd menggelar konferensi pers di SD IT Al-Hilmi pada Rabu (30/9/20) untuk membantah tudingan tersebut.


Awal persoalan ini menurut dia (Ustad Syamsul, red). Nilakanti ini sebelumnya ditugaskan sebagai bendahara umum dan dia dialih tugaskan menjadi Kepala Perpustakaan, karena ia dinilai tidak mampu menyelesaikan pekerjaan dalam rekapitulasi tabungan siswa selama 2 tahun.


"Awalnya, pada tanggal 13 Juni 2020 lalu, Nilakanti berdua bersama Ustazah Ida masuk ke ruangan saya, mereka menyampaikan bahwa saudari Nila belum bisa menyelesaikan pekerjaannya tentang rekapitulasi tabungan siswa selama 2 tahun terakhir. Berdasarkan kondisi itu saya menyarankan agar Nilakanti lebih konsentrasi menyelesaikan rekapitulasi tabungan tersebut. Dan saya ketika itu langsung menugaskan ia untuk menjadi kepala perpustakaan saja karena alasan itu. Dan jabatan Bendahara IPP dan uang Komite saya serahkan ke Ustaz Johan yang lebih menguasai sistem aplikasi keuangan" pungkasnya.


Berdasarkan pertemuan tersebut dikatakan Syamsul, bahwa Nilakanti menolak jabatan yang ditawarkan karena dia tetap ingin menjadi Bendahara sampai waktu yang tidak ditentukan. Dan penolakan itu dibuat dalam bentuk pernyataan.


"Sejak saat itu saudara Nilakanti mulai tidak masuk kerja sejak 15 Juni 2020. Karena itu yayasan langsung melayangkan surat masuk kerja sebanyak 3 kali. Panggilan pertama pada 9 Juli 2020. Panggilan ke 2 pada tanggal 13 Juli 2020. Kemudian panggilan ke 3 ini Nilakanti tidak dipenuhi dan tidak diindahkan" Paparnya.


Menurut Syamsul, saat pihak yayasan melayangkan surat panggilan masuk kerja yang pertama dan kedua. Nilakanti malah mengajukan surat pernyataan untuk dapat berkerja kembali. Surat persyaratan itu ia sampaikan kepada sekretaris Yayasan lalu di share ke Grup WhatsApp. Dalam isi tiga persyaratan tersebut.


"Yang pertama, menjamin keamanan dan kenyamanan berkerja atas atas terjadinya konfli antara bendahara dengan kepala sekolah. Keamanan yang dimaksud adalah keamanan jiwa dan raga, baik fisik maupu psikis dan kenyamanan dalam berinteraksi dan berkoordinasi kembali dengan kepala Sekolah. Kemudian, tidak dilakukan pergeseran jabatan selama saudari tidak melakukan kesalahan/pelanggaran yang merugikan pihak sekolah dan yayasan dengan waktu yang tidak ditentukan. Tidak dicarikan kesalahan/pelanggaran dengan tujuan menjatuhkan" Persyaratan Nilakanti.


Ketiga persyaratan tersebut tidak disetujui oleh ketua yayasan karena dianggap tidak tepat.


Menurut Ketua Yayasan, sejak tidak lagi bertugasnya ibu Nilakanti ini, seluruh dokumen keuangan sekolah disimpan di rumah yang bersangkutan. Dan hal tersebut menyebabkan beberapa persoalan.


"Wali murid kelas VI yang sudah tamat sejak Mei 2020 kemarin, mereka ingin mengambil uang tabungan anaknya tetapi tidak bisa dibayarkan oleh pihak sekolah karena alat kerja, dokumen keuangan ditahan oleh Nilakanti. Selai itu, wali murid juga yang ingin membayar tunggakan biaya sekolah terhambat karena dokumen ditahan juga. Selain itu Nilakanti juga menahan 2 buah buku rekening sekolah dengan saldo sebesar 400 juga, hal itu menyebabkan gaji guru dan pegawai tidak dibayar tepat waktu, dan membuat pembangunan juga terkendala" tandasnya.


Berdasarkan perihal tersebut maka pada tanggal 12 September 2020, yayasan melayangkan surat pernyataan pengembalian alat kerja dan dokumen keuangan sekolah berupa uang tunai sebesar 13 juta lebih dan 1 unit Laptop merek ASUS warna biru. Dua buah rekening sekolah, satu diantaranya merupakan buku rekening khusus siswa dengan saldo sebesar Rp 100 juta dan satu buku rekening uang IPP biaya setahun sebesar 300 juta, serta dokumen pencatatan keuangan tabungan siswa IPP, daftar ulang, biaya kenaikan kelas dan tunggakan kunci lemari.


"3 kali surat panggilan masuk kerja dilayangkan pihak yayasan tidak dipenuhi oleh Nilakanti, begitu pun surat minta pengembalian alat kerja dan dokumen keuangan sekolah belum dipenuhi hingga sekarang" terangnya.(IB.Din)